| Jakarta – Mendengar nama Pasar Ular bayangan masyarakat tertuju pada pasar yang menyediakan pernik-pernik pakaian, celana dan tas mulai dari produk lokal hingga luar negeri. Namun pasar yang dikenal menyediakan barang bermerek itu kini sudah mulai sepi. Pasalnya, keberadaan pasar tradisional yang terletak di Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara itu kini memiliki persaingan cukup ketat, terutama dengan munculnya mal, plaza, dan pusat belanja Carrefour yang juga menyediakan kebutuhan masyarakat termasuk segala jenis pakaian, celana maupun tas yang bermerek pula. Kondisi itulah yang menyebabkan Pasar Ular yang dulunya bisa menyedot ribuan masyarakat untuk belanja pakaian, kini mulai berkurang, bahkan terkesan sepi tanpa dikerubutin para pembelanja yang datang dari berbagai daerah. Semua itu rasanya sudah bertolak belakang dengan kondisis tahun 1990-an. Pasalnya, masyarakat yang datang dari luar Jakarta untuk urusan dinas atau wisata, sebagian besar tidak “afdol” bila tidak berkunjung ke Pasar Ular untuk membeli oleh-oleh pakaian bagi sanak keluarganya. Tapi kini, sebagian besar pendatang dari luar Jakarta, umumnya beramai-ramai datang ke ITC Mangga Dua atau ITC Cempaka Mas. Apalagi pasar tradisional ini sulit untuk mengalahkan mal-mal yang ruangannya sudah tertata rapi dan dilengkapi AC. Walau demikian persaingan itu masih bisa dikejar oleh para pedagang yang ada di Pasar Ular dengan cara menyediakan bahan-bahan pakaian atau celana yang lain dibanding mal-mal. Meski pekerjaan seperti ini cukup sulit, namun bisa saja ditembus oleh para pedang bila mau bersaing. Menurut Sutrisno, salah satu pedagang asal Kuningan, memang berat untuk bersaing di zaman yang sudah maju ini. Jangankan bersaing dengan mal-mal, menghadapi pesaing pakaian dan celana bekas asal luar negeri yang dipasarkan di kawasan Senen saja semakin sulit. Persaingan seperti itu membutuhkan keuletan tersendiri bagi para pedagang di Pasar Ular. Karena Pasar Ular yang dibangun sejak tahun 1984 dan merupakan pindahan dari Pasar Ular Tanjung Priok, Koja, belum ada perbaikan lagi. Bahkan atapnya terkesan pendek dan tidak memiliki keindahan untuk memikat daya tarik para pembeli. Pasar itu seharusnya direnovasi dengan harapan mampu bersaing dengan swalayan yang juga menyediakan baju-baju buatan luar negeri. Menurut Parman warga RT 5 RW 4 Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, renovasi Pasar Ular itu penting artinya untuk membantu para pedagang agar semua barang yang dipasarkan laku keras seperti tahun 1990-an. Menurut pengamatannya bila dibiarkan begitu saja tanpa perawatan dan perbaikan yang memadai, omset yang dimiliki para pedagang tipis sekali setiap harinya. Untuk tahun-tahun belakangan ini, Pasar Ular baru dikerumuni para pembelanja pada hari Raya Idul Fitri. Keramaian ini hanya terjadi satu tahun sekali. Ini yang selalu dimanfaatkan pedagang untuk memetik penghasilan cukup besar. Kendati begitu, katanya, para pedagang harus berani membanting harga. Jika tidak, jangan harap bisa bersaing dengan mal atau plaza. Persaingan cukup mencolok itu hendaknya juga menjadi pemikiran pengelola Pasar Ular. Kalau tidak jangan harap para pedagang bisa bersaing dengan swalayan yang sudah modern. Untuk itu perlu kerja sama yang apik antara pengelola dan para pedagang, dengan harapan mampu mengembalikan Pasar Ular seperti pada masa jayanya “tempo doeloe”.n |
||
|
|
{October 24, 2007} Pasar Ular Semakin Terpuruk